Blogger news

Proposal PTK

21.11 |


PROPOSAL PTK

A.    Judul
PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PAKEM PADA SISWA KELAS V SDN JATIROTRO 01 KECAMATAN KAYEN KABUPATEN PATI
B.     Pendahuluan
1.      Latar Belakang
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa konsep pembelajaran adalah suatu interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Ketentuan ini membawa implikasi pada proses pembelajaran yang hidup dan menarik. Selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dinyatakan bahwa, proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Menurut Standar isi SD/MI tahun 2007 tujuan utama pembelajaran IPA adalah mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Maka pembelajaran IPA mempunyai fungsi penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan inovatif. Agar tujuan tersebut dapat tercapai maka IPA perlu diajarkan dengan cara yang tepat dan dapat melibatkan siswa secara aktif. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) di SD/MI yang ada dalam standar isi merupakan standar minimal yang secara nasional  harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru.
Mengacu hal tersebut, maka dalam setiap pembelajaran harus mencapai SK dan KD yang telah ditetapkan. Untuk mencapai SK dan KD yang telah ditetapkan hendaknya pembelajaran dilakukan secara aktif dan menyenangkan. Pembelajaran aktif ditandai dengan adanya rangkaian kegiatan terencana yang melibatkan siswa secara langsung, komprehensif baik fisik, mental maupun emosi. Hal semacam ini sering diabaikan oleh guru, guru sering menggunakan metode pembelajaran yang monoton dan kurang menarik minat siswa. Sehingga materi yang disampaikan kurang bisa dipahami oleh siswa.
Berdasarkan temuan Kemdiknas RI (2011) merujuk pada data Programme for International Student Assessment (PISA) yang berisi tentang daya saing dan inovasi peserta didik negara-negara OECD (Organization for Economic Co-operation and Development). Dari data tersebut telihat bahwa kualits belajar peserta didik anak Indonesia masih berada dibawah bangsa lain. Bila dilihat dari enam level kecanggihan yang dirilis PISA, sekitar dua pertiga peserta didik di Indonesia masih dalam tahap menghafal tanpa mengerti apa yang dihafalkannya. Selain itu data Balitbang (2003) menunjukkan bahwa dari 146.052 SD di Indonesia, hanya delapan SD yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran. Dapun permasalahan khusus dalam dunia pendidikan adalah rendahnya sarana fisik, rendahnya kualitas guru dan rendahnya prestasi siswa.
Hal ini sejalan dengan hasil osbservasi yang peneliti laksanakan di kelas V SDN Jatiroto 01. Permasalahan yang dihadapi oleh siswa kelas V SDN Jatiroto 01 khususnya mata pelajaran IPA adalah hasil belajar siswa materi Peredaran darah yang belum tuntas atau belum mencapai KKM yang telah ditetapkan. Hal ini dapat dilihat dari nilai ulangan harian IPA siswa kelas V, dimana nilai terendah 46, nilai tertinggi 86 dan nilai rata-rata 64,7. Data menunjukkan bahwa dari 20 siswa, hanya 8 siswa yang mendapat nilai di atas KKM, sedangkan lainnya mendapat nilai di bawah KKM. Faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah guru cenderung monoton, banyak menggunakan metode ceramah sehingga siswa cepat merasa bosan. Guru kurang bisa membangkitkan motivasi belajar siswa dan belum memahami hakikat pembelajaran IPA karena hanya menekankan pada produk saja. Selain itu tidak ada alat peraga yang digunakan dalam proses pembelajaran. Hal itu ditambah dengan pendapat siswa yang menganggap IPA itu sulit dipahami sehingga berdampak pada prestasi siswa.
PAKEM merupakan pembelajaran yang memungkinkan siswa melakukan kegiatan siswa yang beragam untuk mengembangkan ketrampilan, sikap dan pemahaman dengan mengutamakan belajar sambil bekerja, guru menggunakan berbagai sumber belajar dan alat bantu termasuk pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar agar pembelajaran lebih menarik, menyenangkan dan efektif. PAKEM dalam arti suatu model pembelajaran adalah Pembelajaran Aktif, Kreatif dan Menyenangkan.
Model pembelajaran PAKEM terdapat empat unsur di dalamnya antara lain : aktif (belajar merupakan suatu proses aktif dalam membangun makna/pemahaman dari informasi & pengalaman oleh si pembelajar), kreatif (proses pembelajaran harus dapat menumbuhkan sikap kreatif pada diri anak), efektif (pembelajaran yang efektif untuk pembelajaran yang dilaksanakan dapat menunjang kelanjutan pembelajaran berikutnya) dan menyenangkan (situasi yang menyenangkan dalam pembelajaran dapat memotivasi siswa untuk memperhatikan pembelajaran sehingga dapat meningkatkan pencapaian tujuan pembelajaran).
Kelebihan dari model pembelajaran PAKEM di antaranya adalah : 1. Peserta didik akan lebih termotivasi untuk belajar karena adanya variasi dalam proses pembelajaran, 2. Peserta didik dapat lebih mengembangkan dirinya, 3. Peserta didik tidak jenuh dengan pembelajaran di kelas, 4. Peserta didik dapat memecahkan permasalahan  dengan memanfaatkan lingkungan sekitarnya, 5. Mental dan fisik peserta didik akan terasah secara optimal.
Berdasarkan hasil diskusi dengan guru kelas V,  untuk memecahkan masalah pembelajaran IPA tersebut, tim kolaborasi menetapkan alternatif tindakan untuk meningkatkan prestasi belajar IPA, yang dapat  melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran dan meningkatkan ketrampilan guru dalam pembelajaran. Maka peneliti menggunakan salah satu model pembelajaran inovatif yaitu model pembelajaran PAKEM. Sebagai salah satu alternative dalam pembelajaran IPA model pembelajaran PAKEM diharapkan dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk ikut berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga siswa lebih berminat dalam mengikuti pembelajaran IPA. Dengan menerapkan model pembelajaran PAKEM pada pembelajaran IPA diharapkan siswa dapat mencapai KKM yang telah ditetapkan.
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas belajar  IPA, dimana siswa lebih aktif dan kreatif dalam mengikuti pembelajaran.  Selain itu penelitian ini juga dapat meningkatkan kreatifitas guru dalam mengelola pembelajaran di kelas sehingga proses pembelajaran lebih bermakna dan menyenangkan.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka peneliti mengambil judul Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPA melalui Model Pembelajaran PAKEM pada Siswa Kelas V SDN Jatiroto 01 Kecamatan Kayen Kabupaten Pati”.

2.      Perumusan Masalah

a.      Perumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang permasalahan di atas, disusun rumusan masalah sebagai berikut :
Bagaimanakah cara meningkatkan kualitas pembelajaran IPA kelas V SDN Jatiroto 01 Kecamatan Kayen Kabupaten Pati?
Rumusan masalah di atas dapat dirinci sebagai berikut:
1)      Apakah model pembelajaran PAKEM dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran IPA pada siswa kelas V SDN Jatiroto 01 ?
2)      Apakah dengan model pembelajaran PAKEM ketrampilan guru dalam mengelola pembelajaran akan meningkat ?
3)      Apakah hasil belajar IPA pada siswa kelas V SD Jatiroto 01 akan meningkat setelah diterapkannya model pembelajaran PAKEM dalam kegiatan pembelajaran?



3.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka dirumuskan tujuan penelitian sebagai berikut:
a.         Tujuan Umum:
Meningkatkan kualitas pembelajaran IPA pada siswa kelas V SDN Jatiroto 01 Kecamatan Kayen Kabupaten Pati terhadap konsep peredaran darah melalui model pembelajaran PAKEM.
b.         Tujuan Khusus:
1.      Mendeskripsikan  peningkatan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran IPA pada siswa kelas V SDN Jatiroto 01 dengan menggunakan model pembelajaran PAKEM
2.      Mendeskripsikan peningkatan ketrampilan guru dalam mengelola pembelajaran
3.      Meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas V SDN Jatiroto 01 melalui model pembelajaran PAKEM

4.      Manfaat Penelitian
a.      Manfaat Teoritis
          Setiap orang yang telah berusaha selalu ingin mengetahui hasil manfaatnya bagi diri sendiri dan orang lain. Penulis sebagai peneliti di kelas juga ingin mengetahuinya dan dituangkan dalam sebuah karya tulis PTK, agar dapat dipertanggung jawabkan dan memberikan konstribusi nilai guna berupa pengembangan mutu teori perilaku dan pembelajaran serta pengembangan mutu PTK yang akan datang.
b.      Manfaat Praktis
1.      Bagi Siswa
a.     Menumbuhkan motivasi belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA.
b.     Meningkatkan pemahaman siswa tentang mata pelajaran IPA.
c.     Meningkatkan aktifias siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
d.     Mengembangkan sikap aktif dan kreatif siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.


2.         Bagi Guru
a.    Menggali kreatifitas guru dalam mengelola pembelajaran di kelas.
b.   Membantu guru dalam menyelesaikan masalah pembelajaran yang ada di kelas.
c.    Memberikan pengetahuan kepada guru tentang bagaimana mengajar yang disenangi oleh siswa sehingga guru mampu meningkatkan hasil belajar dan mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
3.         Bagi Sekolah
a.       Dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
b.      Memberikan sumbangan pemikiran terhadap upaya peningkatan hasil belajar yang lebih optimal terutama bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar.

C.    KERANGKA TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN
1.      Deskripsi  Teori
a.      Pengertian Belajar
Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan belajar itu mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan oleh seseorang. Belajar memegang peranan penting di dalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian dan bahkan persepsi manusia. Dalam Kamus Bahasa Indonesia belajar diartikan dengan berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman (1993: 17).
b.      Pengertian Pembelajaran
            Pembelajaran memusatkan perhatian pada “bagaimana membelajarkan siswa” dan bukan pada “apa yang dipelajari siswa”. Pembelajaran lebih menekankan pada bagaimana cara agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
c. Kualitas Belajar
Menurut Etzioni (1964) dalam Daryanto (2010: 57), kualitas dapat dimaknai dengan istilah mutu atau juga keefektifan. Secara definitif efektivitas dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan dan sasarannya. Dengan demikian, yang dimaksud efektifitas belajar adalah tingkat pencapaian tujuan pembelajaran, termasuk dalam pembelajaran seni (Daryanto, 2010: 57).
Untuk mengamati kualitas pembelajaran dalam penelitian ini digunakan tiga unsur sebagai acuannya, antara lain :
1)      Aktivitas Belajar Siswa
2)      Ketrampilan guru
3)      Hasil belajar
d.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Aktifitas dan Belajar
1.      Faktor Intern
a.       Faktor Jasmani
b.      Faktor Psikologis
c.       Faktor Kelelahan
2.      Faktor Ekstern
a.       Keluarga
b.      Sekolah
e.       Hakikat IPA
Ilmu Pengetahuan Alam (sains) merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisir, tentang alam sekitar yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah. Ilmu alam (Inggris:natural science) atau ilmu pengetahuan alam adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada rumpun ilmu dimana obyeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dimana pun.
Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses. Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan. "Real Science is both product and process, inseparably Joint" (Agus. S. 2003: 11).
Sains sebagai proses merupakan langkah-langkah yang ditempuh para ilmuwan untuk melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang gejala-gejala alam. Langkah tersebut adalah merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis dan akhimya menyimpulkan. Dari sini tampak bahwa karakteristik yang mendasar dari Sains ialah kuantifikasi artinya gejala alam dapat berbentuk kuantitas.
Ilmu alam mempelajari aspek-aspek fisik & nonmanusia tentang Bumi dan alam sekitarnya. Ilmu-ilmu alam membentuk landasan bagi ilmu terapan, yang keduanya dibedakan dari ilmu sosial, humaniora, teologi, dan seni :
a.       Tujuan Pembelajaran IPA
b.      Ruang Lingkup

f.       Model Pembelajaran PAKEM
v  Pengertian Model Pembelajaran PAKEM
PAKEM adalah sebuah model pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengejakan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan keterampilan dan pemahaman dengan penekanan kepada belajar sambil bekerja, sementara guru menggunakan berbagai sumber dan alat bantu belajar termasuk pemanfaatan lingkungan supaya pembelajaran lebih menarik, menyenangkan dan efektif.
v  Ciri-ciri/karakteristik Model Pembelajaran PAKEM
1.      Pembelajarannya mengaktifkan peserta didik
2.      Mendorong kreativitas peserta didik &guru
3.      Pembelajarannya efektif
4.      Pembelajarannya menyenangkan utamanya bagi peserta didik
v  Prinsip Model Pembelajaran PAKEM
1.      Mengalami: peserta didik terlibat secara aktif baik fisik, mental maupun emosional
2.      Komunikasi: kegiatan pembelajaran memungkinkan terjadinya komunikasi antara guru dan peserta didik
3.      Interaksi: kegiatan pembelajarannyaa memungkinkan terjadinya interaksi multi arah
4.      Refleksi: kegiatan pembelajarannya memungkinkan peserta didik memikirkan kembali apa yang telah dilakukan.

v  Yang harus diperhatikan dalam melaksanakan Model Pembelajaran PAKEM
1.      Memahami sifat yang dimiliki anak
2.      Mengenal anak secara perorangan
3.      Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
4.      Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
5.      Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
6.      Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
7.      Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
8.      Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental
v  11 Indikator Pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan)
    1. Metode Pembelajaran : kegiatan belajar siswa menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi.
    2. Pengelolaan Kelas : kegiatan belajar siswa variatif (individual, berpasangan , kelompok, klasikal). Idealnya lebih dari 3 jenis.
    3. Ketrampilan Bertanya : pertanyaan yang diajukan guru dapat memancing/mendukung siswa dalam membangun konsep/gagasannya secara mandiri.
    4. Pelayanan Individual : kegiatan pembelajaran melayani perbedaan individual ( tipe belajar, siswa: audio, visual, motorik, audio-visual, audio-visual-motorik) menggunakan multimedia.
    5. Sumber Belajar dan Alat Bantu Pembelajaran : guru menggunakan berbagai sumber belajar (sudut baca, perpustakaan, lingkungan sekitar) yang sesuai dengan kompetensi yang dikembangkan.
    6. Umpan Balik dan Evaluasi : guru memberikan umpan balik yang menantang (mendorong siswa untuk berpikir lebih lanjut) sesuai dengan kebutuhan siswa. Guru menggunakan berbagai  jenis penilaian (tes dan non tes) dan memanfaatkannya untuk kegiatan tindak lanjut.
    7. Komunikasi dan Interaksi : komunikasi terjalin dengan baik antara guru-siswa dan siswa-siswa.
    8. Keterlibatan Siswa : siswa aktif dan asyik berbuat /bekerja dalam setiap kegiatan pembelajaran. Dalam setiap kerja kelompok ada kejelasan peran masing-masing siswa dan terlaksana secara bergilir.
    9. Refleksi : setiap usai pembelajaran guru meminta siswa menuliskan/mengungkapkan kesan  dan keterpahaman siswa tentang apa yang telah dipelajari.
    10. Hasil Karya Siswa : berbagai hasil karya siswa dipajangkan, ditata rapid an diganti secara teratur sesuai perkembangan penyampaian materi pembelajaran.
    11. Hasil Belajar : hasil belajar siswa memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM). Siswa mengalami peningkatan kompetensi personal/sosial  dan mengelami peningkatan rasa percaya diri (kemampuan bertanya, menjawab dan tampil di depan kelas).
g.      Teori yang Mendasari Model Pembelajaran PAKEM
Salah satu teori yang mendasari model pembelajaran PAKEM adalah teori belajar konstruktivisme menurut Piaget. Teori belajar yang dikemukakan oleh Piaget tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual tersebut dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi pengetahuan.

h.      Pelaksanaan Model pembelajaran PAKEM di Kelas
v  Pelaksanaan Model Pembelajaran PAKEM
v  Pelaksanaan Model Pembelajaran PAKEM


2.      Kerangka Berfikir
Secara skematis alur pemikiran dapat digambarkan sebagai berikut :                       


















3.      Hipotesis Tindakan
 Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, maka penulis membuat suatu hipotesis tindakan  sebagai berikut: Melalui Model Pembelajaran PAKEM dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPA pada siswa kelas V semester I SD Negeri Jatiroto 01 Kecamatan Kayen Kabupaten Pati.






D.    Metode Penelitian
1.      Seting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN Jatiroto 01 Kabupaten Pati Kuala pada bulan Juni s.d. Agustus.
2.              Subjek Penelitian
Tempat yang dipilih untuk penelitian adalah SDN Jatiroto 01, yang terletak di Desa Genjahan Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. Yang menjadi subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas V SDN Jatiroto 01 tahun pelajaran 2010/ 2011. Jumlah siswa yang diteliti sebanyak 20 orang, terdiri dari 10 orang siswa laki-laki dan 10 orang siswa perempuan.
3.      Data dan Sumber Data
a.       Data
1.      Data kuantitatif
Data kuantitatif diwujudkan dengan hasil belajar peserta didik setelah melaksanakan pembelajaran IPA dengan model pembelajaran  PAKEM
2.      Data kualitatif
Data kualitatif diperoleh dari hasil observasi dengan menggunakan lembar pengamatan aktivitas peserta didik, keterampilan guru, serta catatan lapangan dalam pembelajaran IPA model PAKEM
b.      Sumber data
1.      Peserta didik
Sumber data peserta didik diperoleh dari hasil observasi dan hasil evaluasi  yang diperoleh secara sistematik selama pelaksanaan siklus pertama sampai siklus kedua dan hasil wawancara dengan guru.
2.      Guru
Sumber data guru berasal dari lembar observasi keterampilan guru dalam pembelajaran IPA model PAKEM.
3.      Data dan dokumen
Sumber data dokumen berupa data awal nilai hasil tes sebelum dilakukan tindakan, selain itu juga foto yang menggambarkan aktivitas peserta didik baik sebelum pembelajaran menggunakan model pembelajaran PAKEM, maupun selama proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran model PAKEM
4.      Catatan lapangan
Sumber data yang berupa catatan lapangan berasal dari catatan selama proses pembelajaran berupa aktivitas peserta didik dan keterampilan guru.

4.      Teknik Pengumpulan Data
a.      Teknik Pengumpulan Data
 Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini meliputi tehnik tes dan  non tes, yaitu:
1.      Tes
Tes adalah seperangkat tugas yang harus dikerjakan atau sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta didik untuk mengukur tingkat pemahaman dan penguasaannya terhadap cakupan materi yang dipersyaratkan dan sesuai dengan tujuan pengajaran tertentu (Endang Poerwati, dkk. 2008: 1-5). Dalam penelitian ini tes dilakukan dalam proses dan setiap akhir siklus yang berupa tes tertulis dan tes lisan. Untuk teknik tes, alat pengumpul data berupa pemberian soal secara tertulis sejumlah 10 soal uraian, selama siklus penelitian berlangsung, tiap siklus direncanakan dua kali pertemuan.
2.      Non tes
a.       Metode Observasi
                        Observasi adalah mengamati denga suau tujuan, dengan meggunakan berbagai teknik untuk merekam atau member kode pada apa yang diamati (Endang Poerwati, dkk. 2008: 3-22). Observasi dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai (1) semangat siwa saat pembelajaran berlangsung, (2) kegiatan siswa bekerja,(3) kemampuan mengemukakan pendapat ,(4)kecepatan(5) ketepatan dalam mengerjakan tugas. Observasi yang dilakukan kepada guru yang sedang mangajar IPA dengan lembar pengamatan terlampir.
b.      Metode Dokumentasi
                        Dalam melaksanakan metode dokmentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, catatan harian, dan sebagainya (Arikunto, 2006: 158). Dokumentasi dalam penelitian ini adalah berupa dokumentasi gambar yang berupa foto-foto kegiatan Pembelajaran. Dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk bukti bahwa peneliti telah melakukan penelitian dan juga untuk melihat kembali kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan selama kegiatan berlangsung.
c.         Catatan lapangan
                        Catatan lapangan di tulis oleh guru pengamat untuk menggambarkan keadaan saat pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran PAKEM. Selanjutnya apabila ada permasalahan yang muncul dan tidak diharapkan oleh peneliti. Catatan ini digunakan untuk merefleksi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan.
5.      Teknik Pemeriksaan Valisitas data
           Untuk menghindari kesalahan atau kekeliruan data yang telahterkumpul, perlu dilakukan pengecekan keabsahan data. Pengecekankeabsahan data didasarkan pada kriteria deraja kepercayaan (crebility)dengan teknik trianggulasi, ketekunan pengamatan, pengecekan temansejawat (Moleong, 2004).Triangulasi merupakan teknik pengecekan keabsahan data yangdidasarkan pada sesuatu di luar data untuk keperluan mengecek atau sebagai pembanding terhadap data yang telah ada(Moleong,200).
6.      Teknik Analisis Data
a.       Kuantitatif
Data mengenai hasil belajar diambil dari kemampuan kognitif siswa dengan cara menghitung nilai dan ketuntasan belajarnya.
1)                              Menghitung nilai rata-rata
Nilai rata – rata        =
2)                              Menghitung ketuntasan belajar individu.
                        Ketuntasan belajar individu=
Apabila  tingkat ketuntasan < 60%, maka siswa tidak tuntas, jika tingkat ketuntasan ≥ 60% , maka siswa tuntas.
3)                              Menghitung ketuntasan belajar klasikal.
Ketuntasan belajar klasikal =
Apabila  tingkat ketuntasan < 80%, maka ketuntasan  belajar klasikal belum tercapai.
b.      Kualitatif
Data kualitatif berupa data hasil observasi aktivitas siswa dan keterampilan guru dalam pembelajaran menggunakan model pembelajaran PAKEM, yang dianalisis dengan analisis deskriptif kualitatif. Data kualitatif dipaparkan dalam kalimat yang dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.
1)      Mengukur aktivitas siswa.
Untuk mengetahui bagaimana aktivitas siswa dalam pembelajaran dilakukan analisa pada lembar observasi aktivitas siswa dengan rumus :
Prosentase aktivitas siswa =
Kriteria penilaian :      
               0%   -  20%     : Siswa Tidak Aktif
               21% - 40%      : Siswa Kurang Aktif
41% - 60%      : Siswa Cukup Aktif
61% - 80%      : Siswa Aktif
81% - 100%    : Siswa Sangat aktif
(Aqib, 2009: 41)
2)      Mengukur aktivitas guru
Untuk mengetahui bagaimana aktivitas guru dalam pembelajaran dilakukan analisa pada instrument lembar observasi dengan rumus.
                  Prosentase aktivitas guru =

Kriteria penilaian :      
               0%   -  20%     : Siswa Tidak Aktif
               21% - 40%      : Siswa Kurang Aktif
41% - 60%      : Siswa Cukup Aktif
61% - 80%      : Siswa Aktif
81% - 100%    : Siswa Sangat aktif
(Aqib, 2009: 41)
Analisis data dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif yang memberikan nilai pada hasil belajar siswa. Data tersebut dianalisis  mulai dari siklus I, II untuk dibandingkan dengan teknik deskriptif presentase, dengan rumus :
                  %=  n  x 100%
                         N
Keterangan :
n    : nilai yang diperoleh
N   : nilai total
%   : tingkat keberhasilan yang dicapai    
Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan tabel kriteria deskriptif prosentase, yang dikelompokkan dalam 5 kategori yaitu baik sekali, cukup, kurang, sangat kurang sebagai berikut:





Klasifikasi Kategori tingkatan dan prosentase
Kriteria
Nilai
Penafsiran
Baik sekali
86% - 100%
Hasil belajar baik sekali
Baik
71% - 85%
Hasil belajar baik
Cukup
56% - 70%
Hasil belajar cukup
Kurang
41% - 55%
Hasil belajar kurang
Sangat kurang
< 40%
Hasil belajar sangat kurang



7.      Indikator Keberhasilan
Melalui pendekatan PAKEM dapat meningkatkan kualitas belajar IPA pada siswa kelas V SDN Jatiroto 01 dengan indikator sebagai berikut :
1.      Meningkatkan aktifitas siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA melalui pendekatan PAKEM yang ditandai dengan meningkatnya aktivitas belajar IPA
2.      Aktivitas guru dalam mengelola kelas meningkat, guru terampil mengelola pembelajaran menjadi menyenangkan dan bermakna dalam pelajaran IPA melalui pendekatan PAKEM dengan baik
3.      80% siswa kelas V SDN Jatiroto 01 mengalami ketuntasan dalam pembelajaran IPA menurut Ismail (2008:31) pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas dapat dilihat dari segi proses dan segi hasil. Dari segi proses apabila sebagian besar peserta didik secara aktif baik fisik maupun mental dalam proses pembelajaran , semangat belajar yang besar dan percaya diri. Sedangkan dari segi hasil apabila terjadi perubahan yang positif dari peserta didikseluruhnya atau setidak- tidaknya  75%.
8.      Prosedur Penelitian
a.       Perencanaan
1.      Menganalisis hasil refleksi siklus 1, agar siklus II lebih efektif
2.      Mengoptimalkan waktu
3.      Dokumentasi kondisional yang meliputi tes yang akan digunakan, daftar nilai dan pedoman pengamatan
4.      Membuat skenario pembelajaran
5.      Menyusun rencana pembelajaran
6.      Membuat dan menyiapkan alat peraga dan media pembelajaran
7.      Menyiapkan lembar observasi sebagai pedoman pangamatan kegiatan
8.      Menyusun angket yang akan di gunakan pada siklus 1
9.      Menyusun alat evaluasi
b.      Tindakan
1.      Persiapan
Peneliti menyiapkan materi, skenario pembelajaran, maupun penelitian yang telah diuraikan dalam tahap perencanaan diatas.


2.      Pelaksanakan tindakan
Kegiatan pembelajaran pada siklus II dalam dua kali pertemuan dengan materi gangguan pada organ peredaran darah manusia. Sebelum kegiatan pada siklus II dilaksanakan, siswa diberi soal pretes yang hasilnya digunakan untuk menentukan skor awal.
Langkah langkah tindakan :
a.       Peserta dibagi dalam beberapa kelompok
b.      Tiap kelompok diberi lembar kertas
c.       Menentukan topik atau tema
d.      Hasil kerja kelompok ditempel di depan kelas
e.       Masing masing kelompok berputar mengamati hasil kerja kelompok lain
f.       Klarifikasi dan penyimpulan
c.       Observasi
a.       Mengamati perilaku siswa terhadap model belajar
b.      Memantau diskusi
c.       Mengamati proses transfer informasi kelompok
d.      Mengamati pemahaman masing – masing siswa
d.      Refleksi
a.       Mencatat hasil observasi
b.      Mengevaluasi hasil observasi
c.       Menganalisis hasil pembelajaran
d.      Menyusun laporan


E.     JADWAL PENELITIAN
No
Pelaksanaan Penelitian




1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Proposal PTK
















2
Siklus petama
Perencanaan
Tindakan
Observasi
Refleksi

























3
Siklus kedua
Perencanaan
Tindakan
Observasi
Refleksi

























4
Pelaporan




















F.   Daftar Pustaka
Anonim. 1992. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Arikunto, Suharsimi. dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Awalludin. dkk . 2008. Statistika Pendidikan. Departemen Pendidikan Nasional.
Lapono, Nabisi. dkk. 2008. Belajar dan Pembelajaran SD. Departemen Pendidikan Nasional.
Panitia Sertifikasi Guru Rayon 12. 2007. Standar Isi Mata Pelajaran SD/MI. Semarang: LP3 Universitas Negeri Semarang.
Rifa’i, Achmad dan Catharina Tri Anni. 2009. Psikologi Pendidikan. Semarang: Universitas Negeri Semarang Press.
Sugandi, Achmad. 2007. Teori Pembelajaran. Semarang: Universitas Negeri Semarang Press.
Sugiyanto. 2010. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta : Yuma Pustaka.
Tim Penyusun. 2008. Panduan Penulisan Karya Ilmiah. Semarang : Universitas Negeri Semarang.
Tri Anni, Catharina. 2007. Psikologi Belajar. Semarang: Universitas Negeri Semarang Press.
Trianto. 2007. Model- Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta : Prestasi Pustaka. 
Uno, Hamzah B. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.
http://id.shvoong.com social-sciences1961162-aktifitas-belajar

G.    LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1
Hasil Identifikasi Masalah

1.      Identifikasi masalah dalam PTK
1.      Pada pembelajaran IPS dari 20 siswa hanya 12 siswa (60%) yang dapat menceritakan tentang tokoh- tokoh sejarah pada masa Hindu Budha dan Islam diIndonesia, sedangkan sisanya 8 siswa (40%) mengalami kesulitan
2.      Dalam pelajaran matematika dari 20 siswa, hanya 10 siswa(50%) yang dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan operasi hitung, KPK dan FPB sedangkan sisanya 10 siswa (50%) tidak dapat menyelesaikannya
3.      Siswa kelas V SDN Jatiroto 01 kurang memahami pembelajaran IPA ditunjukkan dengan data, dari 20 siswa hanya 8 siswa(40%) yang mendapatkan nilai diatas KKM sedangkan sisanya 12 siswa (60%) nilainya dibawah KKM (65)
2.      Analisis Masalah
Ø  Dari beberapa permasalahan diatas yang akan dikaji melalui PTK adalah permasalahan pada siswa kelas V SDN Jatiroto 01 pada pelajaran IPA dari 20 siswa, sisanya 8 siswa (40%) yang mendapatkan nilai diatas KKM (65), sedangkan sisanya 12 siswa (60%) nilainya di bawah KKM
Ø  Permasalahan tersebut penting untuk segera dicarikan permasalahannya, karena dibandingkan  dengan permasalahan yang lain, permasalahan ini memberikan dampak yang cukup signifikan bagi siswa. Hanya sebagian kecil siswa (kurang dari 50%) yang dapat memahami pembelajaran IPA. Apabila masalah ini tidak segera diselesaikan  maka akan terjadi kegagalan dalam pembelajaran IPA.
3.      Merumuskan Masalah
·         Apakah model pembelajaran PAKEM dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran IPA pada siswa kelas V SDN Jatiroto 01 ?
·         Apakah dengan model pembelajaran PAKEM ketrampilan guru dalam mengelola pembelajaran akan meningkat ?
·         Apakah hasil belajar IPA pada siswa kelas V SD Jatiroto 01 akan meningkat setelah diterapkannya model pembelajaran PAKEM dalam kegiatan pembelajaran?
4.      Faktor faktor penyebab munculnya masalah
·         Faktor siswa :
ü  siswa menganggap IPA itu sulit dipahami
ü  siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran
ü  siswa merasa bosan
·         Faktor guru   :
ü  guru cenderung monoton
ü  guru belum memahami hakikat pembelajarn IPA
ü  guru belum bisa membangkitkan motivasi dan semangat belajar siswa
·         Faktor KBM  :
ü  hanya menggunakan metode ceramah
·         Faktor fasilitas :
ü  tidak menggunakan alat peraga dalam proses pembelajaran
ü  buku yang digunakan untuk menunjang pembelajaran jumlahnya terbatas


5.      Menetapkan Solusi
a.      Solusi alternatif pemecahan masalah
Menerapkan model pembelajaran PAKEM  dalam pembelajaran IPA pada siswa kelas V SDN Jatiroto 01.
b.      Formulasi solusi (hipotesisi tindakan)
Dengan menggunakan model pembelajaran PAKEM, maka kualitas pembelajaran IPA  pada siswa kelas V SDN Jatiroto 01 akan meningkat.
6.      Lokasi Penelitian
SDN Jatiroto 01, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati.
7.      Perencanaan Perbaikan Pembelajaran
Perencanaan perbaikan pembelajaran yaitu meliputi :
1.      Mempersiapkan desain pembelajaran (RPP)
2.      Mempersiapkan instrument pengumpulan data kuantitaif maupun data kualitatif
3.      Mempersiapkan sumber belajar
4.      Mempersiapkan alat peraga
8.      Judul PTK
PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PAKEM PADA SISWA KELAS V SDN JATIROTO 01 KABUPATEN PATI













DAFTAR NILAI IPA SISWA KELAS V
SDN JATIROTO 01
NO
Nama
KKM
                               Nilai
keterangan
UH 1
UH II
UH III
Rata rata
1.
Jaya Satria
65
54
52
56
54
Tidak tuntas
2.
Dian Kukuh Sanjaya
65
68
64
60
64
Tidak tuntas
3.
Maria Eni N
65
59
64
60
61
Tidak tuntas
4.
Puput Anjarwati
65
68
69
70
69
Tuntas
5.
Yunia Adminingsih
65
65
66
70
67
Tuntas
6.
Zulfiani Prayoga f
65
68
62
59
63
Tidak tuntas
7.
Angga Edi P
65
66
55
65
62
Tidak tuntas
8.
Arda Bagus Eka P
65
59
60
61
60
Tidak tuntas
9.
Arfan Bita Anggara
65
70
74
72
72
Tuntas
10.
Bayu Afriyanto
65
78
78
72
76
Tuntas
11.
Cicik Meilia
65
58
64
58
60
Tidak tuntas
12.
Febriana Tri W
65
58
58
61
59
Tidak tuntas
13.
Frengki Setiawan
65
48
53
57
53
Tidak tuntas
14.
Galuh Rizal Tamara
65
87
86
85
86
Tuntas
15.
Risqi Dwi A
65
67
60
65
64
Tidak tuntas
16.
Setyo Wibowo
65
70
72
77
73
Tuntas
17.
Tri Wulandari
65
58
47
51
52
Tidak tuntas
18.
Taufik Syah Ridho
65
66
70
68
68
Tuntas
19.
Yefita Mustafiah
65
80
86
83
83
Tuntas
20
Yunita Sri Lestari
65
40
54
50
48
Tidak tuntas


TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI NILAI RATA-RATA IPA
NO
NILAI ( n )
FREKUENSI ( f )
PERSEN ( % )
n x f
KATEGORI
1
84-89
1
5%
82,5
Tuntas
2
78-83
1
5%
80,5
Tuntas
3
72-77
3
15%
223,5
Tuntas
4
66-71
3
15%
205,5
Tuntas
5
60-65
7
35%
437,5
Tidak Tuntas
6
54-59
2
10%
113
Tidak Tuntas
7
48-53
3
15%
151,5
Tidak Tuntas
Jumlah
20
100%
1294


Rata-rata =    ∑ (n x f)          =   1294           = 64,7
                        Jumlah siswa         20
Presentasi nilai tuntas = 8  x 100% = 40%
                                          20
Presentasi nilai tidak tuntas = 12  x 100% = 60%
                                                    20

Dari diagram di atas menunjukkan bahwa 60% ( 12 dari 20 siswa) tidak tuntas belajar sedangkan 40 % ( 8 dari 20 siswa ) mengalami ketuntasan belajar

DATA KUALITATIF
Dari hasil wawancara dengan guru kelas V dan observasi langsung di SDN Jatiroto 01, data yang saya peroleh adalah:
1.      Siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran IPA
2.      Guru tidak menggunakan media atau alat peraga dalam menyampaikan materi pelajaran
3.      Pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru cenderung monoton karena guru hanya menggunakan metode ceramah saja
4.      Siswa terlihat bosan ketika mengikuti pembelajaran, terbukti ada beberapa siswa yang bermain sendiri atau bahkan bercanda dan mengganggu temannya


















0 komentar:

Poskan Komentar